Refleksi Nilai Persatuan Menuju Masyarakat Digital

Jika melihat ke belakang, jauh sebelum Indonesia merdeka pada abad ke-14 SM masa kerajaan Majapahit, dikenal semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Empu Tantular. Secara etimologi kata-kata “Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang bila dipisahkan menjadi Bhinneka = beragam atau beraneka, Tunggal = satu, dan Ika = itu. Artinya, secara harfiah, jika diartikan menjadi beraneka satu itu. Maknanya, bisa dikatakan bahwa beraneka ragam tetapi masih satu jua. Semboyan Negara Indonesia ini telah memberikan nilai-nilai inspiratif terhadap sistem pemerintahan pada masa kemerdekaan. Bhineka Tunggal Ika pun telah menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai-nilai inspiratif tersebut melahirkan salah satu sila dalam Pancasila yaitu sila ke-3 “Persatuan Indonesia”.

Nilai Persatuan dalam konteks globalisasi mengharuskan berbaurnya kelompok satu dengan kelompok lainnya. Kemajuan teknologi yang begitu pesat tanpa disadari telah memaksa manusia untuk dapat beradaptasi dengan hal-hal baru yang terikat erat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Kemajuan transportasi seolah meruntuhkan tembok pembatas jarak antar pulau, sehingga manusia satu dengan yang lainnya dapat saling berinteraksi satu sama lain. Hal tersebut secara tidak langsung mendewasakan manusia yang berbeda latar belakang, suku dan budaya, yang mana memberikan wawasan dan pengetahuan tentang nilai-nilai yang dibawa masing-masing orang yang berbeda.

Era digital yang erat dengan gadget memang menghilangkan batas komunikasi, akan tetapi hal tersebut menjadi sebuah ironi karena menyebabkan berkurangnya esensi komunikasi antar individu. Momen berkualitas secara intensif seolah menjadi hal langka sekarang, semua orang disibukkan dengan gadgetnya masing-masing, memilih berkomunikasi dengan orang lain yang jauh disana daripada sekedar ngobrol langsung dengan orang yang ada di depan mata. Pada akhirnya secara perlahan manusia akan kehilangan jati dirinya sebagai mahluk sosial (zoon politicon) karena rasa empati hanya sebatas memberikan like atau tanggapan belaka dalam postingan di media-media sosial.

Akses internet di era digital ini merupakan kebutuhan yang tidak dapat dinafikan lagi, mayoritas masyarakat setiap hari mengakses internet dengan bebasnya. Jutaan komentar membanjiri media sosial seperti instagram, facebook, twitter, youtube dll. Setiap orang bebas berkomentar, tidak jarang muncul komentar yang sifatnya memprovokasi, mengadu domba, menghina atau merendahkan satu sama lain. Lantas bagaimana memfilter perpecahan yang muncul melalui medsos? Apakah perlu penguatan regulasi dalam beropini atau kita perlu bercermin dan berinstropeksi diri?

Penulis : PANJI PURNOMO, S.Pd, M.Pd